Tertimpa Kamus Kecil Joko Pinurbo

Biarpun terkesan picisan, puisi itu punya romantismenya sendiri. Ingatan saya yang setara dengan ingatan ikan mas menarik ke belakang perkenalan saya dengan puisi. Waktu itu saya masih di bangku sekolah dasar, kelas 5 jika tak salah ingat dan diminta oleh guru untuk mewakili sekolah dalam perlombaan baca puisi tingkat kabupaten.

Puisi yang dipilih oleh para guru pembimbing bikinan Chairil Anwar, judulnya “Aku”. Sekali setiap minggunya selama dua bulan, saya dites untuk menghafal dan membaca puisi tersebut, dengan penghayatan yang membuat saya seolah “Si Binatang Jalang” itu. 

Bertahun-tahun menjauh dari puisi membuat saya kangen. Baru satu dua tahun belakangan ini saya mendekatkan diri lagi dengan puisi. Bukan dengan puisi-puisi bergaya Chairil yang penuh energi dan kadang mendayu-dayu, saya tertarik kepada puisi yang memainkan kata-kata dengan lentur. Puisi yang bisa menjadi pelarian dari kejenuhan karena rutinitas kerja kantoran.

Salah satu puisi terbaik yang saya anggap mampu mengajak kata-kata itu meliuk dan melenggok menari-nari adalah puisi berjudul “Kamus Kecil” bikinan Joko Pinurbo. Puisi itu mampu membuat saya jatuh hati dan mengutuk dalam hati pada saat yang bersamaan. Puisi Jokpin itu pula yang membangkitkan hasrat saya untuk menulis puisi.

Kamus Kecil

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu
Walau kadang rumit dan membingungkan
Ia mengajari saya cara mengarang ilmu
Sehingga saya tahu
Bahwa sumber segala kisah adalah kasih
Bahwa ingin berawal dari angan
Bahwa ibu tak pernah kehilangan iba
Bahwa segala yang baik akan berbiak
Bahwa orang ramah tidak mudah marah
Bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih
Bahwa seorang bintang harus tahan banting
Bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada Tuhan
Bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira
Sedangkan pemulung tidak pelnah merasa gembila
Bahwa orang putus asa suka memanggil asu
Bahwa lidah memang pandai berdalih
Bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa
Bahwa amin yang terbuat dari iman menjadikan kau merasa aman

Bahasa Indonesiaku yang gundah
Membawaku ke sebuah paragraf yang merindukan bau tubuhmu
Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk yang hangat
Dimana kau induk kalimat dan aku anak kalimat

Ketika induk kalimat bilang pulang
Anak kalimat paham
Bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung
Ruang penuh raung
Segala kenang tertidur di dalam kening

Ketika akhirnya matamu mati
Kita sudah menjadi kalimat tunggal
Yang ingin tinggal
Dan berharap tak ada yang bakal tanggal

Dinukil dari Buku Latihan Tidur, kumpulan puisi Joko Pinurbo.