Hidup setelah Expedia

Setelah tiga tahun kurang tiga bulan, akhirnya saya memulai hidup baru setelah Expedia. Keputusan yang tidak sepenuhnya sulit karena pada dasarnya saya adalah orang yang suka pindah-pindah tempat kerja. Loyalis menyebut saya dan kawan-kawan yang hobi pindah sebagai “kutu loncat”. Kami membela diri bahwa kami memerlukan tantangan lebih untuk belajar. Tidak ada yang sepenuhnya salah atau benar, tergantung perspektif masing-masing.

Bekerja di Expedia mungkin bisa dibilang salah satu kebetulan yang menyenangkan. Mundur ke beberapa tahun silam, seorang recruiter ketika itu menghubungi saya via pesan di LinkedIn. Ia menginisiasi obrolan dan mengatakan apakah saya tertarik mencoba pengalaman baru. Saya mengiyakan dan ia kembali bertanya slot waktu kosong untuk berbincang via telepon.

Ketika itu saya masih bekerja di Bukalapak. Jumlah pegawainya masih kurang dari 100, beberapa waktu sebelum mereka mendapat pendanaan dari EMTEK. Setelah makan siang pada hari yang sama dengan pembicaraan di LinkedIn, recruiter tersebut kemudian menelepon. Ia memperkenalkan namanya. Pria Malaysia berdarah India itu mengatakan bahwa kantornya, Expedia, sedang mencari anggota baru untuk tim yang berkantor di Jakarta.

Yang menarik, saya tidak tahu apa itu Expedia sebelum pria itu menghubungi. Sebelum berbincang saya via telepon, saya menyempatkan diri untuk googling hanya untuk mendapati bahwa saya terkesima dan membatin, “Wow, ini perusahaan besar!”

Expedia memang perusahaan besar, terdaftar sebagai salah satu emiten NASDAQ. Mereka adalah perusahaan teknologi yang memiliki produk travel, seperti hotel, tiket pesawat, kapal pesiar, dan sebagainya. Expedia memang bukan nama yang familiar, di Indonesia Agoda lebih dekat dengan khalayak. Selain itu, Expedia memang hampir tidak pernah melakukan promosi yang masif.

Singkat cerita, saya kemudian mengikuti proses perekrutan yang diawali dengan tes online. Setelah lulus tes tersebut, saya menjalani wawancara dengan Y (manajer saya, wanita berpaspor Cina), S (direktur senior, berpaspor AS), dan N (manajer seperti Y yg mengontrol tim di Bangkok dan Indocina). Prosesnya memakan waktu sekitar 3 bulan. Melelahkan sekaligus menyenangkan karena akhirnya saya diterima dan mendapatkan penawaran kompensasi yang akan saya terima jika saya bergabung.

Bekerja di Expedia itu menyenangkan karena seperti kebanyakan perusahaan asal AS, mereka memberikan fasilitas-fasilitas yang memanjakan karyawan. Ketika itu mereka menyediakan fasilitas travel & wellness reimbursement. Perihal medis pun mereka perhatikan, BPJS dan asuransi swasta yg sifatnya cashless tersedia. Yang menarik, fasilitas tersebut berlaku untuk partner domestik tanpa mesti menikah. Expedia adalah salah satu perusahaan AS yang mendukung kesetaraan dan keberagaman, dan hal tersebut membuat Expedia menjadi opsi yang pas untuk berkarier. Idealnya begitu, meski penerapannya tidak semulus itu.

Sebagai individu yang dianggap tidak pernah loyal terhadap perusahaan, setelah setahun lewat saya menyadari saya butuh tempat bermain baru. Setahun pertama di sana, saya belajar banyak hal yg sebelumnya tak pernah saya dapatkan. Saya belajar menggunakan tools yang mahal. Saya bersyukur. Tapi, relasi pekerja dan pemberi kerja kan sebatas relasi bisnis belaka, tanpa harus melibatkan aspek-aspek emosional. Tahun kedua saya benar-benar fokus untuk mencari kesempatan baru.

Saya sempat menjajal proses di beberapa perusahaan lain, seperti Google dan Facebook. Sayangnya sampai saat ini belum berjodoh. Mungkin lain waktu. Sejak Februari lalu, saya memutuskan bergabung dengan BBM, aplikasi pesan instan yg sebelumnya berada di bawah naungan BlackBerry dan kini dikelola oleh EMTEK.

the Expedians
5 dari 6 orang di foto ini sudah memulai hidup di luar Expedia.