Mimpi Lama Menunggang Primavera

Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang punya ikatan sentimentil dengan Vespa. Penyebabnya tak lain karena Vespa adalah motor pertama yang saya kenal. Bapak dulu adalah penggemar Vespa. Saya tak mungkin menyebutnya pencinta Vespa, karena menurut saya cintanya cuma untuk ibu. Hehehe ….

Keintiman saya dengan Vespa terjadi begitu saja karena memang itu adalah kendaraan harian yang digunakan bapak untuk antar-jemput saya ke sekolah. Saya lupa rentang waktunya, tapi beberapa jenis Vespa, seperti Primavera, PX, Excel, VBB, pernah terparkir di rumah. Sejak kesehatan bapak menurun, Vespa-nya diturunkan kepada keponakan, kawan, dan om, karena tak sempat merawat. Setelah itu, era motor Jepang (Honda) mulai menjajah garasi kecil di rumah, seperti Star, Prima, dan Grand. Hanya Legenda yang kelihatannya tak pernah mampir.

Saya sempat ingin protes karena kebaikan bapak. Tapi, ketimbang Vespanya terbengkalai ya apa boleh bikin. Saya kadang masih menumpang Vespa Primavera yang diwariskan ke om saya sebagai obat rindu hingga akhirnya motor tersebut dilego juga. Era motor dengan kopling tangan seperti Vespa mulai digoyang motor tanpa kopling tangan bikinan Jepang. Vespa ketika itu identik dengan segala keribetan. Kalau dingin sukar dinyalakan, kadang engkol macet, mesti cek oli samping, kadang bensin, dan yang makin bikin benci tapi rindu, suara garing knalpotnya.

Waktu terus berlalu, tapi ikatan sentimentil itu tetap ada. Ketika kuliah, saya seringkali berkunjung ke rumah om di Kaliurang. Selain untuk menengok mbah putri, saya biasanya melepas kangen Vespa dengan meminjam Primavera lawas punya om yang biasa digunakan untuk berangkat ngarit. Sembari mengendarai Primavera dari rumah om menuju ke rumah mbah putri yang hanya berjarak beberapa ratus meter, saya seringkali mbatin seandainya ada Vespa matic, kelihatannya saya pengin punya.

Keinginan itu terkabul beberapa tahun kemudian ketika Vespa kembali masuk ke Indonesia. Yang membedakan sistem transmisinya, jika dulu mayoritas menggunakan kopling tangan (kopling basah), Vespa kini menggunakan transmisi otomatis (kopling kering). Sayangnya, harganya pun lumayan mahal ketika itu jika dibandingkan dengan motor Jepang.

Mimpi nostalgia untuk punya Vespa mesti dipendam lebih lama. Ganti motor jelas bukan prioritas buat saya yang sempat cuti kuliah karena ada kendala finansial waktu itu. Bahkan sampai disindir oleh wakil rektor III kalau tidak punya uang tidak usah kuliah. Sialan.

Bulan lalu, saya berhasil bernostalgia dengan Primavera. Uang hasil kerja partikelir yang masih berwujud dolar melambung. Berkah terselubung. Saya yang belum terpikir untuk ganti motor tak sengaja lihat brosur Vespa. Mimpi lama muncul lagi. Akhirnya saya berselancar untuk mengetahui harganya, ternyata uangnya cukup untuk meminang Primavera versi terbaru. Tanpa pikir panjang saya ajak April datang ke galeri Vespa di Tebet ketika hari lebaran kedua. Beberapa hari sebelumnya, saya sempat berkunjung ke salah satu galeri Vespa di Kebayoran Lama.

Akhirnya, setelah berdiskusi dengan April, saya meminang Primavera iGet ABS lansiran 2018 seperti di bawah ini.

Primaver iGet ABS 2018 sisi kanan.
Primaver iGet ABS 2018 sisi kiri.

Biarpun baru datang belum sampai tiga bulan, tapi sudah ada beberapa ubahan yang saya lakukan. Ubahan apa saja, tampaknya lebih asyik saya bahas lain waktu.