Peran Hamsik

il metronome vs marek hamsik

Il Metronome vs Marek Hamsik

Tidak banyak yang memperhatikan apa itu ‘Hamsik Role’, mungkin karena pamor calcio yang kini kalah  mentereng jika dibanding liga eropa daratan yang overrated itu.

Saat Euro 2012 berlangsung banyak yang terkejut dengan keputusan Vicente Del Bosque menggunakan skema false9. Setelah Euro 2012 berakhir pun, pembicaraan seputar false9 tak kunjung usai, banyak orang menganggap false9 seperti taktik paling revolusioner 1 dekade ini, taktik yang sejujurnya gak baru baru amat. Mereka terlihat seperti para poser yang memuja Oliver Sykes sebagai Tuhan and the rest of Bring Me The Horizon  as their prophets.

Saya tidak hendak membahas tentang sejarah dan kelebihan false9 karena saya khawatir Gusztav Sebes akan bangkit dari kuburnya untuk menguliahi saya tentang apa sebenarnya false9 itu dan kemudian mengantarkan saya bertemu Jonathan Wilson untuk diludahi. Namun kesuksesan Spanyol menghabisi Italia di Final Euro 2012 tidak lepas dari peran taktik yang saya bahas kali ini.

Tanggal 20 Mei 2012, di Roma dihelat Final Coppa Italia antara Juventus versus Napoli. Final yang awalnya diprediksi akan berlangsung seru dengan permainan terbuka dan banyak gol nyatanya berlangsung membosankan dan tidak menarik, apalagi jika dibandingkan dengan 2 pertemuan sebelumnya di liga, dimana dari total 2 game tersebut tercipta 9 gol.

Aktor dari alotnya pertandingan tersebut tidak lain adalah Walter Mazzari. Mazzari menurunkan skema yang tidak berbeda dari skema Napoli biasanya, ia menempatkan Ezequiel Lavezzi – Edinson Cavani – Marek Hamsik di depan, Three Tenors dari Naples kala itu. Yang membedakan adalah peran Marek Hamsik malam itu, ditaruh di belakang duet penyerang seperti biasa, Marek Hamsik menjelma menjadi momok bagi Juventus. Marek Hamsik memiliki jobdesc tambahan sebagai perusak irama permainan Juventus, di mana pusat dari permainan Juventus adalah Il Metronome, Andrea Pirlo.

Saat sedang melakukan serangan, Hamsik adalah otak permainan Napoli bersama Lavezzi, namun saat sedang kehilangan bola hal yang dilakukan pertama kali oleh Hamsik adalah mencari di mana Andrea Pirlo berada. Ia akan menempel  terus ke mana Pirlo berlari, bahkan saat permainan terhenti karena seorang pemain terbaring cedera, Hamsik mengikuti Pirlo ke pinggir bench Juventus yang ingin meminta minum ke official.

Pertandingan itu sendiri akhirnya dimenangkan oleh Napoli dengan skor 2-0, di mana Hamsik juga mencetak gol untuk kemenangan Napoli. Lalu bagaimana nasib Andrea Pirlo? Pertandingan malam itu menjadi salah satu permainan terburuk Pirlo bersama Juventus di musim pertamanya, terlepas dari antiklimaks-nya permainan Juventus saat itu.. Sejak saat itu strategi tersebut mulai disebut Hamsik Role, sebuah strategi yang menempatkan 1 orang khusus untuk mengganggu pemain lawan yang berperan sebagai pengatur permainan (deep – lying playmaker).

Konon Hamsik Role-lah yang mengilhami Vicente Del Bosque untuk memberikan jobdesc tambahan kepada Cesc Fabregas yang berperan sebagai false9. Dengan melakukan gangguan – gangguan terhadap Pirlo otomatis permainan Italia terganggu, hingga akhirnya Spanyol berhasil menghabisi Italia 4 – 0.

Musim ini Hamsik Role mulai diadaptasi oleh beberapa  tim selain Napoli yang bertemu dengan Juventus, sejauh ini hanya Fiorentina yang berhasil dengan Hamsik Role, saat bermain imbang 0 – 0 di Artemio Franchi, anak asuhan Vincenzo Montella benar – benar mendikte permainan Juventus, dengan penguasaan bola 51% berbanding 49% milik Juventus, pertama kali Juventus kalah dalam penguasaan bola di pertandingan liga domestik. Peran pengganggu permainan dijalankan dengan baik oleh David Pizarro dan Borja Valero secara bergantian menjahili Il Metronome, beruntung Juventus tidak kalah malam itu.

AS Roma sempat mencoba mengaplikasikan Hamsik Role, namun hasilnya AS Roma dibekap 4-1 dengan 3 gol pertama hanya dalam waktu kurang dari 20 menit. Daniel De Rossi gagal memberikan tutorial bagaimana memenangkan lapangan tengah kepada juniornya Alessandro Florenzi dan Panagiotis Tachtsidis kala itu. Andrea Pirlo menjadi Man of The Match dengan mendapat rating 8.8 menurut Whoscored.com di pertandingan itu.

Tidak banyak yang mengetahui apa itu ‘Hamsik Role’ , mungkin karena pamor calcio yang kini kalah  mentereng jika dibanding liga eropa daratan yang overrated itu. Terlepas dari berbagai kekurangannya, inilah Calcio, sepakbola Italia selalu punya keindahannya sendiri, sebuah kompetisi yang banyak melahirkan allenatore berbakat yang menelurkan taktik – taktik hebat. Sebuah kompetisi yang mungkin hanya disukai oleh para loyalisnya.