Tak Ada Lagi Romansa Nomor 10

Andrea Pirlo: “Juventus wanted to retire the number ten shirt now that Alessandro Del Piero is leaving the club, but he asked them not to do so. I agree with his decision. It’s unthinkable that someone will be up to Del Piero’s legacy soon, but I am sure someone will, in the future.” [Sky Italia].

Petikan kalimat tersebut menggambarkan apresiasi Juventus terhadap sosok Del Piero, legenda hidup Juventus yang memutuskan hijrah ke Liga Australia. Selepas mengantarkan Juventus merengkuh Scudetto Serie A musim 2011/ 2012 Ale (sapaan akrab Del Piero) memilih untuk mengakhiri petualangannya bersama Juventus yang sudah berlangsung sejak tahun 1993. Sempat dikaitkan dengan beberapa klub antara lain FC Sion (Swiss) dan Napoli (Italia) akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan Sydney FC (Australia).

Keputusan Ale untuk pergi dari Turin meninggalkan kesedihan, tidak hanya bagi para tifosi Juventus namun kesedihan bagi Ale sendiri. Partai terakhir melawan Atalanta di musim 2011/2012 memperlihatkan betapa emosional dan sentimentilnya perasaan saat mengakhiri kebersamaan yang sudah terjalin 19 tahun. Tidak ada lagi gelak tawa, hanya senyuman tanpa gairah dan tatapan nanar diiringi air mata yang menetes.

Memimpin Juventus mengarungi satu musim kompetisi tanpa satupun kekalahan dan memperoleh gelar liga bisa dianggap sebagai kado perpisahan yang manis dari Ale’, karena tidak ada yang benar – benar mampu menghilangkan perihnya sebuah perpisahan. Walaupun di musim terakhirnya bukan merupakan pilihan utama Antonio Conte (pelatih Juventus yang sempat menjadi kolega Del Piero semasa bermain) Ale selalu total saat diberikan waktu bermain, perannya semakin krusial menjelang akhir musim, termasuk gol-nya ke gawang Lazio di pekan – pekan terakhir liga musim 2011/ 2012.

Memutuskan untuk tetap di Turin saat Juventus terdegradasi ke Serie B dan mengawali musim dengan minus 17 poin adalah salah satu bukti loyalitasnya, bersama Gigi Buffon, Pavel Nedved, Mauro Camoranesi, serta David Trezeguet, Ale menjadi pemain senior yang membimbing para pemain muda bahu – membahu untuk membawa Juventus kembali ke kasta tertinggi. Bukan keputusan mudah bagi Ale dan kawan – kawan memilih untuk tetap tinggal dan bermain di kasta kedua liga di Eropa, apalagi kala itu beberapa pemain senior berstatus sebagai juara dunia. Totalitas dan loyalitas akhirnya membawa Juventus kembali ke Serie A pada musim berikutnya, dan Del Piero menjadi Capocannoniere (pencetak gol terbanyak) Serie B dengan 20 gol.

Setelah promosi Del Piero bersama Juventus mengalami periode naik turun dan suasana tim yang benar – benar tidak kondusif. Pemecatan pelatih adalah salah satu hal yang jarang terjadi di klub sebesar Juventus, namun dalam rentang waktu tersebut terhitung ada nama Claudio Ranieri, Ciro Ferrara, Alberto Zaccheroni, hingga Luigi Del Neri yang bergantian menjadi pelatih Juventus dan semuanya bisa dibilang gagal memenuhi ekspektasi tinggi manajemen dan tifosi. Saking karut – marutnya Del Piero sempat dituding sebagai biang keladi tidak kondusifnya suasana ruang ganti, ada yang beranggapan Del Piero memiliki pengaruh hingga kebijakan mercato (transfer pemain), namun hingga akhir pengabdian Del Piero di Juventus semua anggapan itu tidak terbukti.

Perginya Del Piero berarti menyisakan satu nomor lowong, nomor 10. Nomor yang selama belasan tahun belakangan identik dengan pemain yang dijuluki il pinturrichio ini. Bergabung dari klub Padova pada musim 1993/ 1994 dengan biaya transfer 5 juta lira, tidak ada yang menyangka bahwa seorang pemain muda akan menyingkirkan Il Divine Ponytail, Roberto Baggio. Nomor 10 di Juventus memang identik dengan seorang maestro, pemain yang mampu membawa perubahan. Tercatat ada nama – nama seperti Giampiero Boniperti (legenda Juventus yang akhirnya membawa Del Piero dari Padova), Michel Platini, Roberto Baggio, hingga akhirnya Del Piero. Walaupun beberapa dari pihak yang kontra mungkin lupa bahwa nomor 10 pernah digunakan oleh Luigi De Agostini seorang pemain belakang, sesuatu yang mungkin di luar kebiasaan.

Simpang – siurnya berita terhadap penerus nomor 10 di Juventus sempat menyembulkan beberapa nama, dari Sebastian Giovinco, Arturo Vidal, Andrea Pirlo hingga Gianluigi Buffon. Namun beratnya tekanan dan dirasa belum ada figur yang cocok mengenakan nomor tersebut membuat manajemen melowongkannya pada musim 2012/ 2013, karena Del Piero sendiri menolak jika nomor tersebut dipensiunkan untuk menghormati dirinya.

 

Datangnya Carlos Tevez pada musim ini (2013/ 2014) disambut antusias oleh para fans Juventus di penjuru dunia, namun ketika diumumkan bahwa Carlitos (sapaan akrab Tevez) akan mengenakan nomor 10 banyak reaksi pro kontra yang muncul. Semua pihak yang kontra merasa pemberian nomor tersebut kurang tepat. Lumrah memang mengingat di beberapa klub terdahulu Tevez sempat bermasalah. Jika dilihat lebih jauh pihak yang kontra terhadap keputusan tersebut mayoritas adalah fans Juventus yang mengalami periode nomor 10 di bawah kendali Del Piero, wajar memang jika hal tersebut sedikit sensitif. Melihat jauh ke belakang, bukankah keraguan yang sama sempat datang di tahun 1995 saat Del Piero mengambil alih nomor 10 dari Roberto Baggio pada masa keemasannya.

Bocah 17 tahun yang akhirnya menyingkirkan seorang maestro Italia. Bocah yang akhirnya menuliskan sejarahnya sendiri di Juventus. Namun keputusan telah dibuat, dan Carlos Tevez akan mengenakan jersey bernomor 10 di Juventus. Memang dari aspek teknis Carlitos nyaris tanpa cacat, kemampuannya untuk bertarung dengan bek – bek lawan membuatnya disegani, karakter itulah yang diyakini akan membantunya beradaptasi dengan Juventus yang sebelumnya terkenal dengan Lo Spirito Juve. Carlitos dianggap memiliki grinta yang selama ini hilang dari lini depan Juventus. Kohesivitas antara Carlitos dan punggawa lainnya diharapkan mampu membawa Juventus ke level permainan yang jauh lebih baik dari musim sebelumnya. Untuk aspek non-teknis, percayakan saja bahwa Antonio Conte mampu mengendalikannya untuk kemudian mengeluarkan potensi terbaik dari Carlitos.

Conte pernah mengatakan bahwa Del Piero telah menuliskan sejarahnya sendiri dengan Juventus, apapun yang terjadi dengan Juventus kelak tetap tidak akan menghilangkan namanya dalam sejarah klub. Hal tersebut memiliki dua maksud, penghormatan tertinggi terhadap sosok Del Piero dan meringankan beban si pemakai nomor 10 selanjutnya, dalam hal ini Tevez. Andrea Agnelli pun menguatkan pernyataan Conte dengan mengatakan bahwa selamanya Del Piero tetap menjadi kapten bagi Juventus. Kini tak ada lagi romansa nomor 10 seperti era Del Piero dulu, biarkan Tevez menuliskan sejarahnya sendiri. Seperti keinginan Del Piero yang menolak untuk memensiunkan nomor 10, karena menurutnya hal tersebut dapat merusak mimpi banyak anak muda yang bermimpi untuk mengenakan nomor 10 di Juventus kelak.

1 gol yang dicetak Carlitos tadi membawa Juventus meraih kemenangan atas Sampdoria dalam laga giornata pertama Serie A seakan membuktikan bahwa dirinya memang layak mengenakan nomor punggung 10. 

Carlitos berhasil mencetak gol pada debutnya bersama Juventus di giornata pertama Serie A, gol tersebut menjadi satu – satunya gol yang tercipta di pertandingan tersebut. Workrate Carlitos yang sangat baik pada pertandingan itu mendatangkan banyak pujian. Hal tersebut seakan membuktikan bahwa dirinya memang layak mengenakan nomor punggung 10, patut kita tunggu sepak terjang Carlitos hingga akhir musim.

I do not want the #10 kit to be retired. It wouldn’t be right. When I was a child I dreamed of being able to wear it one day, and I would like others to do the same. There must plenty of little kids with the same dream I once had.
Alessandro Del Piero

Grazie Ale, Benvenuti Carlitos….