[Reviu] The Martian, Menelisik Mars dengan Humor

Bagi Anda yang terpukau sekaligus bertanya-tanya dengan Interstellar karya Christopher Nolan, film The Martian adalah jawaban tentang bagaimana seharusnya film yang memilih luar angkasa sebagai latar cerita bisa disajikan dengan begitu renyah. Jika di film karya Nolan tersebut para penonton dibuat mengernyitkan dahi sembari memegang dagu dengan lagak berpikir–padahal tak paham apa-apa– karena Nolan, dibantu Kip Thorne, begitu obsesif dengan teori lompatan kuantum, di film ini, Ridley Scott rasa-rasanya sukses dalam menyampaikan gambarannya tentang kerja keras astronot sebagai entitas yang harus mampu menyintas dalam kondisi apa pun, dan tentu saja gambaran Scott tentang Mars.

Menonton The Martian akhir pekan ini (3/10) adalah salah satu pilihan paling brilian yang bisa saya lakukan untuk mengawali Oktober. Dibandingkan Interstellar yang sangat saya tunggu, rencana menonton film berdurasi 142 menit ini baru muncul Jumat malamnya, ketika saya dan April bertukar pesan singkat melalui layanan WhatsApp. Rutinitas biasa, menyusun rencana untuk menghabiskan akhir pekan. Hal tersebut membuat ekspektasi tak sebesar ketika menantikan Interstellar karena saya tak sempat mencari tahu segala informasi tentang film ini.

Film ini diawali dengan misi NASA bernama ARES III dengan enam orang astronot sebagai awaknya. Dalam sebuah momen pembuka film, Mark Watney (Matt Damon) gagal melewati badai yang melanda Mars dan membuat dirinya dianggap sudah mati dan kemudian ditinggalkan oleh kelima rekannya. Kejadian itu pula yang membawa film pada sketsa berikut yang cukup membuat Anda tidak nyaman. Sebuah adegan di mana Watney mencabut antena yang melukai–dan ironisnya juga melindungi dirinya dari kematian–untuk kemudian menjahit lukanya dengan pengokot.

Watney yang harus menerima kenyataan bahwa ia adalah penyintas tunggal yang ada di planet merah ini mulai menyusun rencana bagaimana ia harus dapat hidup selama mungkin sembari mengharapkan bantuan datang dari Bumi. Salah satunya adalah dengan menanam kentang di salah satu sudut ruangan yang disebut sebagai Habitat. Di sini humor mulai diluncurkan. Di mana ia menggunting satu demi satu kantong kotoran untuk menggemburkan tanah Mars sebagai medium menanam kentang, dan ia mau tak mau harus mencium aroma-aroma tak menyenangkan yang keluar dari kotoran kering tersebut. Kemudian saat membuat api untuk membakar hidrogen dan menghasilkan uap air, Watney lupa memperhitungkan kadar oksigen dan hasilnya ia sedikit terbakar dan terpelanting. Pada akhirnya, latar belakangnya sebagai ahli botani membawanya pada keberhasilan memanen kentang di Mars.

Perlahan Watney mulai mencoba memulai komunikasi dengan kru NASA di Bumi. Harapannya terjawab ketika ia berhasil melakukan komunikasi dan pihak NASA akan mengusahakan untuk menolongnya. Menyelamatkan orang pertama yang berhasil memanen kentang di Mars untuk kembali ke Bumi. Sayangnya, rencana tersebut tidak semulus perkiraan, hingga akhirnya dua faktor penting membuat misi penyelamatan tersebut berhasil. Pertama, di film ini diceritakan jika CNSA (Agensi Luar Angkasa Cina) akhirnya berempati terhadap kejadian yang menimpa NASA dan bermaksud meminjamkan properti mereka. Namun, bantuan Cina ini bisa saja gagal jika Rich Purnell (Donald Glover) tidak mengungkapkan hasil analisanya. Toh dengan kedua faktor pun proses penyelamatan Watney tak bisa dibilang mulus. Film ini berakhir menyenangkan setelah Kapten Lewis (Jessica Chastain) berhasil menangkap Watney yang melayang-layang dengan gaya Iron-Man di atmosfer Mars.

Film ini melibatkan banyak nama familiar. Sebut saja Jeff Daniels yang berperan sebagai Teddy Sanders (bos NASA). Daniels dikenal sebagai salah satu aktor kawakan. Bagi Anda penyuka serial TV pasti akrab dengan wajahnya di serial berjudul The Newsroom. Sementara itu, Jessica Chastain sempat bermain di film Interstellar, di mana Matt Damon juga terlibat dalam proyek film tersebut. Kemudian ada Kate Mara yang juga terlibat dalam film superhero dengan latar luar angkasa, Fantastic 4, yang belakangan dicerca karena terlalu buruk untuk tayang di bioskop. Tak lupa sosok Michael Pena (juga terlibat di Ant-Man) yang memerankan Rick Martinez. Meski porsinya tak begitu banyak, ia sukses menjadi warna lain di film ini. Beberapa letupan gurauannya membuat kehadirannya saya tunggu-tunggu.

Rating 8/10

*Pada adegan di mana CNSA menawarkan bantuan kepada NASA, saya langsung teringat Donald Trump. Saya pikir jikapun apa yang terjadi di film The Martian ini sungguh nyata, mungkin Trump adalah satu-satunya orang yang mengancam keberhasilan misi ini. Ia bisa saja menolak bantuan dan mengorbankan nyawa satu orang hanya karena harga dirinya yang begitu tinggi. 

*Di film ini Anda akan sering mendengar terminologi “SOL”. Istilah tersebut digunakan sebagai kata ganti hari di Mars. Jika satu hari satu malam di Bumi sama dengan 24 jam, satu SOL di Mars sama dengan 24 jam 39 menit 35,244 detik di bumi.