Mendedah Kelayakan (Andai) Klopp ke Liverpool

Liverpool kembali menjalani masa muram yang beberapa tahun terakhir lekat dengan mereka. Setelah menjalani periode baik semusim lalu, kini mereka seperti lupa bagaimana caranya untuk mengulangi performa apik tersebut.

Brendan Rodgers pun seperti kehilangan maginya. Jika musim lalu ia sukses menginspirasi anak asuhannya, tidak dengan musim ini. Berada di undakan ketiga Grup B Liga Champion–dalam tiga laga awal—dan tampil tak bagus-bagus amat di Liga Inggris, Rodgers mesti sadar bahwa posisinya terancam. Beberapa alternatif mungkin sedang dipertimbangkan oleh manajemen serta direksi. Nama Juergen Klopp pun menyeruak dan disebut sebagai salah satu kandidat juru racik anyar.

Dari segi taktik, Klopp adalah jaminan mutu. Meski kiprahnya belum teruji di liga mayor Eropa lainnya–karena baru Dortmund-lah klub terbesar yang ia tangani, sederet titel yang berhasil ia persembahkan bagi klub dari lembah Ruhr itu setidaknya menjadi justifikasi bahwa dirinya layak untuk berdiri di tepi lapangan Anfield, tentu saja di kubu Si Merah. Lima titel bergengsi, dua di antaranya juara Bundesliga, dan penghargaan individu sebagai Pelatih Terbaik Jerman pada 2011 dan 2012, merupakan rekam jejak sekaligus bekal bagi pria yang sempat menjadi pandit di salah satu televisi Jerman ini untuk meredam panasnya kursi manajer tim Merseyside Merah. Belum lagi, ia sempat membawa Dortmund mencatatkan 28 laga tanpa kalah pada 2011/2012. Impresif.

Klopp juga dikenal sebagai sosok yang adaptif terhadap situasi dan kondisi yang ia hadapi. Pada awal kedatangannya di Dortmund, eks bos Mainz ini sempat mencoba skema tiga bek. Sayangnya, skema tersebut tak begitu sukses. Ia kemudian memutuskan untuk mengubah formasi dengan empat bek sejajar, dua poros ganda, tiga gelandang serang, dan satu ujung tombak. Hasilnya? Seperti yang Anda bisa lihat di laman Wikipedia dirinya, ia sukses besar. Andaikata ia sukses meraih trofi Liga Champions musim 2012/2013 lalu, mungkin kini ia bisa pensiun dengan tenang atau mencoba melatih sebuah tim nasional.

Sesungguhnya, apa yang ia terapkan di Dortmund bukanlah hal baru mengingat sudah banyak tim lain yang sukses mengimplementasikan skema tersebut. Namun, intensitas yang ia tularkan kepada para pemainnya membuat skema milik Dortmund terlihat lebih mematikan dan memiliki daya rusak yang luar biasa. Meski pembawaannya dingin, ia amat andal dalam mengeluarkan kemampuan terbaik seluruh pemainnya.
“Ia mampu membuat kami semua menyadari bahwa jika ingin sukses, kami harus bekerja dan berusaha lebih keras ketimbang orang lain di lapangan. Tentu saja dengan berlari lebih banyak,” kata Robert Lewandowski, eks ujung tombak Dortmund yang kini berseragam Bayern Munich itu satu ketika seperti dikutip dari Bild. “Hasrat yang kami miliki, semua kami kerahkan untuk kepentingan tim, dan Klopp-lah yang membuatnya demikian,” masih kata pemain timnas Polandia itu.

Berbicara soal Lewandowski, terlepas dari kepergiannya yang tak memberi tambahan sesen pun dalam catatan buku pemasukan klub, ia merupakan satu dari sekian nama dalam daftar belanja sukses klub karena intuisi kelas satu pria religius ini. Selain Lewy, ada nama-nama asing yang juga mencuat di bawah arahan Klopp, antara lain: Neven Subotic, Mats Hummels, Lukasz Piszczek, Marco Reus, dan Sven Bender. Jangan pula lupakan pemain lincah dari Jepang, Shinji Kagawa, yang direkrut hanya dengan biaya 350.000 euro, tapi berhasil dilego dengan keuntungan 4.800%! Belakangan, pria jepun itu memutuskan kembali ke klub yang membesarkannya karena merana di Inggris bersama raksasa sakit, Manchester United.

Jika dibandingkan dengan manuver Rodgers selama di Liverpool, khususnya musim terakhir, Klopp tentu lebih unggul–dengan mengabaikan variabel absennya Liverpool di kompetisi antarklub paling bergengsi di tatanan Eropa yang membuat pemain-pemain bintang enggan merapat. Bagi para penggemar Liverpool, dosa terbesar pria Irlandia Utara itu adalah “hanya” mendatangkan pemain semodel Rickie Lambert dan Mario Balotelli untuk menggantikan peran Luis Suarez yang hengkang ke Liga Spanyol. Memboyong eks pemain Inter Milan dan AC Milan itu adalah repetisi dari apa yang dilakukan oleh Raja Liverpool, Kenny Dalglish, ketika mendatangkan Andy Carroll beberapa musim silam. Kehadiran Klopp di Liverpool tentu saja memicu peluang bagi pemain-pemain Dortmund untuk mengikuti jejak mentor mereka. Hal ini adalah efek domino yang diharapkan oleh mayoritas penggemar Liverpool.

Salah satu nilai plus dari suami Ulla Sandrock itu adalah, ketimbang Rodgers yang lebih banyak diam dan memilih bicara diplomatis nan normatif ketika berada di hadapan awak media, Klopp lebih apa adanya, tanpa menanggalkan kesan dingin yang dimiliki. Gaya bicaranya yang sopan semakin khas dengan suara rendah nan berat yang amat pria. Ia gemar mengungkapkan gagasan-gagasan yang membanjiri kepalanya, hingga terkesan ekspresif. Terkadang, ia kerap mengeluarkan lelucon atau pun parodi yang mampu mengundang gelak tawa di ruang konferensi pers. Hal tersebut tentu menjadi modal penting untuk menghadapi pers Negeri Ratu Elizabeth yang dikenal kurang kerjaan.

Dari gaya berpakaian, ia bukan sosok pria yang peduli soal citra dan lebih memilih untuk tampil senyaman mungkin. Hal itu kemudian membuatnya dikenal sebagai manajer sepak bola yang bergaya sportif berbalut celana olahraga dan jaket hangat–meski belakangan mulai mengalah dengan mengenakan jas di kompetisi antarklub Eropa. Ulrich Hesse, salah seorang pewarta berita di Jerman, menyebutnya sebagai Bon Jovi di lapangan hijau. Konon, ia sempat memainkan beberapa lagu rock ketika merayakan kesuksesan tim pada 2011/2012 dalam sebuah penerbangan.

Aksinya di lapangan–ketika berteriak lantang memerintahkan para pemainnya untuk mundur bertahan–memancarkan keanggunan yang membalut ketegasan. Ia adalah jawaban dari pertanyaan atas asal-usul keberanian yang ditunjukkan oleh para pemain Dortmund ketika berlaga. Bagi pendukung Mainz dan Dortmund, ia adalah pujaan. Dari aspek apa pun, ia adalah sosok ideal bagi Liverpool. Keberhasilan Dortmund untuk kembali menjulang setelah hampir gulung tikar tak lepas dari andil pria yang tak berhasrat untuk menghabiskan seluruh hidupnya dengan menjadi manajer sepak bola.

Jika pada 2008 ia memanjat pagar tribun untuk berpamitan kepada para penggemar Mainz, cara serupa mungkin akan ia ulang–sembari menyanyikan satu atau dua buah lagu rock–ketika berpamitan kepada para penggemar Dortmund sebelum melatih Liverpool (semoga saja).

*Artikel ini lebih dulu ditayangkan di Yahoo Indonesia.