Cruyff yang Menyerah Kalah

Saya selibat dengan sepak bola ketika Johan Cruyff sudah tak lagi punya napas yang cukup panjang untuk mengolah Si Kulit Bulat di lapangan hijau. Saya terlambat.

Kedekatan saya dengan menir perokok ini muncul karena studi pustaka yang harus saya lakukan ketika mesti menggarap salah satu edisi FourFourTwo Indonesia yang berkisah tentang masa lalu Barcelona–klub yang membesarkannya–atau mungkin mengacu konteks pada masa itu, justru Barcelona-lah yang dibesarkan oleh pria kelahiran Amsterdam ini.

 

Rinus Michels dan Johan Cruyff
Rinus Michels dan Johan Cruyff

 

Sebelum Cruyff datang, Barcelona tak punya citra mentereng. Mereka adalah samsak penguasa Spanyol kala itu. Klub pesakitan, saking parahnya mungkin hanya Barcelona yang punya sejarah kelam presidennya mati bunuh diri–koreksi jika saya salah. Sejarah yang tandas diempas waktu.

Dari studi pustaka itu, pikiran sempit saya langsung menyimpulkan bahwa menir ini adalah aktor sepak bola yang kafah. Silogisme yang sering muncul dari Cruyff banyak dan sangat menarik. Salah satu yang paling mengena adalah ketika ia menafikan arti sebuah kebetulan. Buat Cruyff, kebetulan sesungguhnya bisa dinalar, bisa didedah, alih-alih dianggap abstrak.

Kini cerita sang menir tamat. Ia menyerah kalah oleh kanker. Ia jemawa. Ketika lolos dari kematian bulan lalu, ia dengan dada membusung mengatakan bahwa ia unggul 2-0 atas kanker yang dideritanya. Ternyata kanker itu tak menyerah, dia menyerang balik dengan “total voetbal” yang ironisnya diasosiasikan dengan Cruyff dan memutarbalikkan keadaan. Cruyff pun kalah.

Sekarang mungkin ia sedang di purgatorium, di mana api sedang mencoba mencucinya dari segala dosa. Sehabis paskah, mungkin ia sudah bisa bersenda gurau dengan Rinus Michels. Pendahulunya, mentornya, sekaligus musuh terbesarnya.

Saya membayangkan keduanya bersenda gurau, mengocok dadu dan bermain ludo. Sembari bergunjing tentang keputusan penerus mereka yang akan hijrah dari Jerman menuju Inggris.

Beristirahat di alam baka, bung! Kurangi rokokmu, gantilah sedikit dengan kretek 🚬