[Reviu] Sate Padang Murni di Cikini yang (Sayangnya) Biasa Saja

Perkenalan saya dengan masakan berbahan dasar daging merah terjadi sejak kecil lewat racikan almarhum ibu. Namun, ketika itu, saya tidak terlalu terpikat dengan jenis-jenis masakan tersebut. Ada beragam jenis masakan dengan bahan baku daging merah, dan saya hanya terpikat dengan bakso.

Saya menepikan masakan daging lainnya, seperti sop, rendang, dendeng, gulai, bahkan perkedel daging yang sesungguhnya agak mirip dengan bakso. Baru kemudian saya sadar, saya telah melakukan salah satu kesalahan elementer dalam hidup.

Begitu SMA, saya mulai dekat dengan menu daging merah lain. Saya mulai keranjingan rendang yang padat rempah dan kaya rasa, sop daging yang kaldunya menyegarkan, dendeng yang sempurna karena perpaduan kimiawi bawang putih, merica, dan ketumbar, dan tentu saja, sate. Namun, tetap enggan menyantap gulai dan steik.

Bicara sate, khususnya yang bahan bakunya dari daging merah, tentu tak elok jika tidak menyinggung sate Padang. Sate jenis ini punya rupa yang kontras dengan sate Madura, khususnya dari tampilan bumbu dan bahan daging yang digunakan. Jika sate Madura cenderung datar dan manis, sate Padang lebih “panas” karena sentuhan lada yang cukup banyak.

Sensasi “panas” itulah yang membuat saya jatuh hati. Saya tak ingat kapan tepatnya saya mulai intim dengan sate padang. Kakak perempuan saya pun sempat kaget ketika tahu saya suka sate Padang. Tapi yang jelas, sate Padang punya tempat tersendiri di lidah saya.

Ketika kuliah, saya satu indekos dengan kawan dari Medan yang lahir dan besar di Padang. Hal itu membuat kawan saya “arogan” dalam perihal rasa makanan, khususnya masakan Padang. Ia sangat anti makanan manis, enggan makan di rumah makan Padang yang juru masaknya bukan orang Padang, seperti itulah.

Tapi, dari kawan saya itu pula lah akhirnya saya tahu bahwa ada dua mazhab sate Padang yang dilihat dari jenis bumbunya. Sate Padang Panjang, dengan bumbu yang berwarna kuning–karena kayanya kandungan kunyit. Dan satunya, sate Padang Pariaman yang menurut penuturan kawan saya berwarna merah. Saya baru tahu belakangan jika merah cenderung kecokelatan, bukan merah yang seperti saya bayangkan awalnya.

“Padang Panjang lebih cocok buat anak kecil, Co. Sedang Pariaman, jauh lebih pedas, dan lebih bikin keringetan. Nah, yang kita makan ini, Padang Panjang,” kata kawan saya ketika itu sembari menambahkan keripik singkong di piringnya yang berisi sate Padang dan ketupat.

Ketika lulus kuliah dan hijrah ke Jakarta untuk mencari sesuap berlian, kegemaran saya terhadap sate Padang tak luntur. Saya yang belum tahu konstelasi makanan enak di Jakarta, termasuk sate Padang, makan sembarangan saja. Belakangan saya tahu Ajo Ramon, pedagang sate Padang yang pamornya lumayan mentereng.

Hampir semua orang yang saya mintai rekomendasi sate Padang, merekomendasikan nama abang satu itu. Percumbuan saya dengan bumbu racikan Ajo Ramon terjadi dua tahun yang lalu, usai menyelesaikan tenggat majalah lisensi. Martin, kawan saya, langsung setuju ketika saya meminta dirinya untuk menemani menuju Ajo Ramon di daerah Senopati. Saya terbuai sejak tusuk pertama dan akhirnya memutuskan untuk makan dua porsi.

Sejak itu, saya selalu memprioritaskan Ajo Ramon dalam hal sate Padang. Namun, kabar duka yang menyebutkan bahwa Ramon Tanjung, pemilik Ajo Ramon, meninggal, ternyata membuka perkenalan saya dengan sate Padang (yang seharusnya) enak lainnya.

Sate Padang Murni namanya. Usai membaca obituari yang dibuat Cak Nuran dengan apik, saya langsung membulatkan niat untuk menjajal sate Padang Murni. Minggu (8/10), saya dan April langsung menuju Cikini dari Sunter dengan sepeda motor. Lokasi sate Padang Murni tak sulit dicari, jika Anda tahu SPBU di Cikini, nah, persis di sebelahnya ada sate Padang Murni. Ia menempati trotoar di depan PTUN.

Ketika sampai, kami langsung dihampiri salah seorang pelayan, kami mengambil secarik menu yang ada di meja. Saya memutuskan 15 tusuk sate yang kesemuanya daging berikut ketupat. April memutuskan 10 tusuk campur (usus, lidah, daging) sonder ketupat.

Tidak lama, dua porsi sate Padang yang kami pesan datang. Bumbunya agak merah muda (sedikit menyimpang dari mazhab Pariaman yang mestinya merah kecokelatan).

Tusuk pertama usai saya makan. Biasa saja. Kemudian saya menyesap bumbu dengan sendok. Lagi-lagi biasa saja. Hingga satu porsi sate Padang tandas, tak ada letupan-letupan mistis pemantik kebahagiaan yang saya rasakan. Ketika saya menawari April untuk tambah, dia menolak. Mungkin ekspektasi berlebih “membunuh” kami malam itu.

Kami kemudian membayar dan pulang. Tanpa kesan tentu saja. Semuanya biasa saja. Tapi, tetap saja, saya penasaran untuk kembali datang ke situ. Saya memikirkan dua kemungkinan, sate Padang murni memang biasa saja untuk saya–dan preferensi lidah saya berbeda dengan yang lain, atau bumbu sate hari itu memang kurang maksimal.

Tapi, lagi-lagi saya berpikir, untuk sate Padang yang kerap juara di beberapa kontes–berdasarkan beberapa reviu yang saya baca sebelum datang ke situ–sungguh celaka cum medioker jika ternyata bumbu yang dijual hari itu kurang maksimal. Karena kestabilan rasa adalah salah satu hal sulit dalam berjualan makanan.

Ngomong-ngomong soal kestabilan rasa, sate Padang Ajo Ramon pun tidak punya standar rasa yang sama. Ajo Ramon di Pasar Santa punya rasa jintan yang kelewat kuat. Kemudian yang di Mal Artha Gading adalah yang paling celaka di antara cabang-cabang Ajo Ramon lain yang saya coba. Untuk saya, yang terbaik masih Ajo Ramon cabang Senopati.

Perjalanan kuliner kami Minggu itu kemudian berlanjut ke salah satu kedai kopi asyik di daerah Kelapa Gading.